Senin, 20 Januari 2025

BERKAH IBU

Suatu ketika di pagi hari, di depan gerbang sekolah. Mataku melirik ke kiri dan ke kanan. melihat ke celah keramaian. Di antara mobil mobil dan motor yang berjejer mengantri menurunkan anak anaknya, atau mungkin anak tuan nya.

"Ke mana ya si Abi, jam segini kok belum sampai ke sekolah? Padahal sebentar lagi bel akan berbunyi dan gerbang sekolah akan ditutup." gumamku cemas. Karena kalau gerbang telah ditutup, siswa akan dibawa ke kantor kesiswaan dan akan diberi surat peringatan. Dan jika 3 kali berturut turut datang terlambat maka akan mendapatkan SP 2 bahkan bisa didrop out dari sekolah.

Terlihat pak Satpam mulai menghampiri pintu gerbang. Karena waktu telah menunjukan pukul 07.00 kurang 2 menit.

Akupun lari menghampiri pak satpam dan memegang tangan nya. "Pak, mohon maaf, teman saya belum sampai. Kemarin dia sudah terlambat dan telah mendapat surat peringatan dari kesiswaan. Mohon tunggu sebentar lagi ya pa, please..." aku mencoba menahan pak satpam menutup pintunya.

"Tapi sekarang sudah jam 7, coba kamu lihat tuh ke jam itu". Pak satpam menunjuk jam dinding di atas pintu gerbang sekolah. "Gregggg" pintu pun tertutup rapat dan langsung dikunci oleh pak satpam.

Akupun pasrah dan balik kanan dan bergegas masuk ke kelas.

"Kasian Abi, dia pasti dapat hukuman lagi. Yang parahnya aku gak tega kalau lihat dia sampai dikeluarkan dari sekolah."

Bel pun berbunyi, para siswa berlari menuju kelas nya masing masing, akupun bergegas masuk ke dalam kelas. Aku kaget ketika di depan pintu mendengar suara tilawah yang tidak asing lagi.

"Abi? Kok bisa?" aku kaget melihat ternyata si Abi sudah berada di kelas dan sedang tilawah di kursinya.

"Abi, bagaimana kamu bisa masuk ke kelas? Kamu loncat lewat belakang ya?" tanya ku heran. Karena aku sudah menunggu nya sekita 15 menit di depan gerbang sekolah tapi tidak melihat dia lewat masuk.

"Masya Allah, kamu su'udzon aja sama aku. Alhamdulillah, hari ini aku bisa datang lebih awal dari biasa nya. Aku bangun lebih awal dan mempersiapkan perlengkapan sekolah lebih awal" jawab Abi sambil tersenyum.

"Emang ibu kamu gak jualan? Atau kamu gak bantuin ibu kamu menyiapkan dagangannya?" aku mulai curiga dan kasian jika ibu nya Abi tidak jualan seperti biasa nya.

"Enggak Den, Alhamdulillah ibu ku tetap jualan. Karena kalau gak jualan kamu tahu sendiri." Jawabanya santai.

"Terus kamu gak bantuin ibu kamu gitu" tanyaku ketus.

"Enggak Den, aku tetap bantuin ibu ku menyiapkan dagangannya. Kan tadi sudah aku bilang, aku bangun lebih awal, menyiapkan perlengkapan sekolah juga lebih awal. Sehingga aku bisa tetap bantu ibu ku dan tidak terlambat sekolah" jawab Abi sambil tersenyum lagi.

"Apalagi, minggu lalu aku sudah dipanggil sama kesiswaan karena keterlambatanku. Sebagai orang yang beriman, kan kita tidak boleh jatuh di lubang yang sama." lanjut Abi menjelaskan permasalahan nya.

Abi memang sosok yang tenang. Dia selalu terlihat santai seperti tidak ada masalah yang sedang dia alami. padahal, keadaan Abi sangat memprihatinkan. Dia adalah siswa yang berprestasi. Ibunya adalah seorang pedagangan Nasi uduk di taman kota. Ayahnya adalah seorang pedagang es buah yang terkenal dengan kedermawanannya. namun, ayahnya meninggal dunia sejak Abi masih berumur 3 tahun.

dengan segala keterbatasan keadaannya, Abi mampu masuk ke sekolah favorit dan mahal. Bahkan dia masuk ke sekolah ini bukan karena sebagai siswa yatim, tapi melalui jalur prestasi yang tidak mudah untuk mendapatkan nya. Bahkan dengan sederet syarat yang harus dipenuhi dan ketentuan yang harus dijaga agar bisa terus bersekolah di sini.

***

Hari ini, setelah pulang sekolah aku izin kepada ibu ku untuk main ke rumah Abi. Aku ingin tahu, apa yang dilakukan Abi setiap hari selepas pulang sekolah. Kalau denger cerita dari nya, selepas pulang sekolah dia langsung mebantu ibu nya berjualan di taman kota.

“Den, emang gak papa kamu ikut saya pulang dan jualan sama ibu ku?” tanya Abi keheranan.

“Gak papa bi, aku udah izin kok. Lagian hari ini aku gak ada jadwal les. Jadi, dari pada di rumah bengong gak ngapa ngapain mending belajar dari pengalaman orang lain, betul gak, hehe” jawab ku sumringah.
Ternyata, Si Abi gak pulang ke rumah, dia langsung ke warung ibu nya di taman kota. Dan saat sampai di warung, si Abi langsung izin ke belakang untuk cuci piring kotor bekas makan para pelanggan. Setelah itu, dia merapihkan dan membersihkan meja makan pelanggan serta menyapu bagian bawah meja yang banyak sisa – sisa makanan pelanggan.

“Den, maaf ya membuat kamu menunggu. Ibu ku gak punya karyawan kayak di restoran – restoran. Tapi aku sendiri lah karyawan nya, hehe…”

“luar biasa kamu Bi. Terus kalau udah selesai semua, kamu ngapain lagi Bi?” lanjut ku.

Aku sangat ingin tahu kapan dia belajar hingga bisa jadi anak yang pintar dan berprestasi. Selain itu, dia jua selalu menjadi juara baik di kelas maupun di luar sekolah. Piala dan mendali yang dia telah raih mungkin sudah berjejer di rumah nya. Tapi sayang aku gak bisa lihat karena langsung ke warung ibu nya.

”Sini den” Abi mengajak aku ke belakang warung nya.

Di sana ada sebuah bale bambu di bawah pohon ceri yang rindang, juga ada majalah dan koran bekas di atas meja lusuh ber cat coklat keputihan. Udara yang segar meriuh – riuh sejuk sehingga membuat ku nyaman duduk di bale tersebut.

“nah, kalau lagi gak ada tugas dari ibu ku, aku duduk di sini sambil membaca majalah atau koran bekas yang ibu ku beli untuk membungkus nasi. Ini adalah tempat special ku. Di sini aku mengerjakan PR dan tugas - tugas sekolah.” Kata Abi menjelaskan.

“Hmmm..” aku bergumam. Ternyata hanya ini saja yang dia lakukan di luar sekolah. Tapi ini sungguh impossible.

“Kenapa Den?” tanya Abi melihat muka ku seperti orang bingung.

“kok bisa, kamu seorang yang pintar dan berprestasi, belajar hanya dengan duduk di sini sambil baca koran? Kata ku keheranan.
Abi pun tersenyum dan mengajak ku duduk di sebelahnya.
“Den Rangga, kunci kesuksesan itu adalah berusaha dan berdoa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar