Suatu ketika di pagi hari, di depan gerbang sekolah. Mataku melirik ke kiri dan ke kanan. melihat ke celah keramaian. Di antara mobil mobil dan motor yang berjejer mengantri menurunkan anak anaknya, atau mungkin anak tuan nya.
"Ke
mana ya si Abi, jam segini kok belum sampai ke sekolah? Padahal sebentar lagi
bel akan berbunyi dan gerbang sekolah akan ditutup." gumamku cemas. Karena
kalau gerbang telah ditutup, siswa akan dibawa ke kantor kesiswaan dan akan
diberi surat peringatan. Dan jika 3 kali berturut turut datang terlambat maka
akan mendapatkan SP 2 bahkan bisa didrop out dari sekolah.
Terlihat
pak Satpam mulai menghampiri pintu gerbang. Karena waktu telah menunjukan pukul
07.00 kurang 2 menit.
Akupun
lari menghampiri pak satpam dan memegang tangan nya. "Pak, mohon maaf,
teman saya belum sampai. Kemarin dia sudah terlambat dan telah mendapat surat
peringatan dari kesiswaan. Mohon tunggu sebentar lagi ya pa, please..."
aku mencoba menahan pak satpam menutup pintunya.
"Tapi
sekarang sudah jam 7, coba kamu lihat tuh ke jam itu". Pak satpam menunjuk
jam dinding di atas pintu gerbang sekolah. "Gregggg" pintu pun
tertutup rapat dan langsung dikunci oleh pak satpam.
Akupun
pasrah dan balik kanan dan bergegas masuk ke kelas.
"Kasian
Abi, dia pasti dapat hukuman lagi. Yang parahnya aku gak tega kalau lihat dia
sampai dikeluarkan dari sekolah."
Bel pun
berbunyi, para siswa berlari menuju kelas nya masing masing, akupun bergegas
masuk ke dalam kelas. Aku kaget ketika di depan pintu mendengar suara tilawah
yang tidak asing lagi.
"Abi?
Kok bisa?" aku kaget melihat ternyata si Abi sudah berada di kelas dan
sedang tilawah di kursinya.
"Abi,
bagaimana kamu bisa masuk ke kelas? Kamu loncat lewat belakang ya?" tanya
ku heran. Karena aku sudah menunggu nya sekita 15 menit di depan gerbang
sekolah tapi tidak melihat dia lewat masuk.
"Masya
Allah, kamu su'udzon aja sama aku. Alhamdulillah, hari ini aku bisa datang
lebih awal dari biasa nya. Aku bangun lebih awal dan mempersiapkan perlengkapan
sekolah lebih awal" jawab Abi sambil tersenyum.
"Emang
ibu kamu gak jualan? Atau kamu gak bantuin ibu kamu menyiapkan
dagangannya?" aku mulai curiga dan kasian jika ibu nya Abi tidak jualan
seperti biasa nya.
"Enggak
Den, Alhamdulillah ibu ku tetap jualan. Karena kalau gak jualan kamu tahu
sendiri." Jawabanya santai.
"Terus
kamu gak bantuin ibu kamu gitu" tanyaku ketus.
"Enggak
Den, aku tetap bantuin ibu ku menyiapkan dagangannya. Kan tadi sudah aku
bilang, aku bangun lebih awal, menyiapkan perlengkapan sekolah juga lebih awal.
Sehingga aku bisa tetap bantu ibu ku dan tidak terlambat sekolah" jawab
Abi sambil tersenyum lagi.
"Apalagi,
minggu lalu aku sudah dipanggil sama kesiswaan karena keterlambatanku. Sebagai
orang yang beriman, kan kita tidak boleh jatuh di lubang yang sama."
lanjut Abi menjelaskan permasalahan nya.
Abi
memang sosok yang tenang. Dia selalu terlihat santai seperti tidak ada masalah
yang sedang dia alami. padahal, keadaan Abi sangat memprihatinkan. Dia adalah
siswa yang berprestasi. Ibunya adalah seorang pedagangan Nasi uduk di taman
kota. Ayahnya adalah seorang pedagang es buah yang terkenal dengan
kedermawanannya. namun, ayahnya meninggal dunia sejak Abi masih berumur 3
tahun.
dengan
segala keterbatasan keadaannya, Abi mampu masuk ke sekolah favorit dan mahal.
Bahkan dia masuk ke sekolah ini bukan karena sebagai siswa yatim, tapi melalui
jalur prestasi yang tidak mudah untuk mendapatkan nya. Bahkan dengan sederet
syarat yang harus dipenuhi dan ketentuan yang harus dijaga agar bisa terus
bersekolah di sini.
***
Hari ini,
setelah pulang sekolah aku izin kepada ibu ku untuk main ke rumah Abi. Aku
ingin tahu, apa yang dilakukan Abi setiap hari selepas pulang sekolah. Kalau
denger cerita dari nya, selepas pulang sekolah dia langsung mebantu ibu nya
berjualan di taman kota.
“Den,
emang gak papa kamu ikut saya pulang dan jualan sama ibu ku?” tanya Abi
keheranan.
“Gak papa
bi, aku udah izin kok. Lagian hari ini aku gak ada jadwal les. Jadi, dari pada
di rumah bengong gak ngapa ngapain mending belajar dari pengalaman orang lain,
betul gak, hehe” jawab ku sumringah.
Ternyata, Si Abi gak pulang ke rumah, dia langsung ke warung ibu nya di taman
kota. Dan saat sampai di warung, si Abi langsung izin ke belakang untuk cuci
piring kotor bekas makan para pelanggan. Setelah itu, dia merapihkan dan
membersihkan meja makan pelanggan serta menyapu bagian bawah meja yang banyak sisa
– sisa makanan pelanggan.
“Den,
maaf ya membuat kamu menunggu. Ibu ku gak punya karyawan kayak di restoran –
restoran. Tapi aku sendiri lah karyawan nya, hehe…”
“luar
biasa kamu Bi. Terus kalau udah selesai semua, kamu ngapain lagi Bi?” lanjut
ku.
Aku
sangat ingin tahu kapan dia belajar hingga bisa jadi anak yang pintar dan
berprestasi. Selain itu, dia jua selalu menjadi juara baik di kelas maupun di
luar sekolah. Piala dan mendali yang dia telah raih mungkin sudah berjejer di
rumah nya. Tapi sayang aku gak bisa lihat karena langsung ke warung ibu nya.
”Sini
den” Abi mengajak aku ke belakang warung nya.
Di sana
ada sebuah bale bambu di bawah pohon ceri yang rindang, juga ada majalah dan
koran bekas di atas meja lusuh ber cat coklat keputihan. Udara yang segar
meriuh – riuh sejuk sehingga membuat ku nyaman duduk di bale tersebut.
“nah,
kalau lagi gak ada tugas dari ibu ku, aku duduk di sini sambil membaca majalah
atau koran bekas yang ibu ku beli untuk membungkus nasi. Ini adalah tempat
special ku. Di sini aku mengerjakan PR dan tugas - tugas sekolah.” Kata Abi
menjelaskan.
“Hmmm..”
aku bergumam. Ternyata hanya ini saja yang dia lakukan di luar sekolah. Tapi
ini sungguh impossible.
“Kenapa
Den?” tanya Abi melihat muka ku seperti orang bingung.
“kok
bisa, kamu seorang yang pintar dan berprestasi, belajar hanya dengan duduk di
sini sambil baca koran? Kata ku keheranan.
Abi pun tersenyum dan mengajak ku duduk di sebelahnya.
“Den Rangga, kunci kesuksesan itu adalah berusaha dan berdoa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar