Rabu, 24 Agustus 2016

Siapa bilang Yasin dan Tahlilan itu Bid'ah??

Pendahuluan
Bangsa kita adalah bangsa yang kaya dengan Budaya dan Adat Istiadat. Ada sekitar 1.128 Suku Bangsa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dengan adat yang dan budaya yang berbeda-beda. Belum lagi jika dilihat dari sisi geografisnya, ada 17.504 pulau yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan 7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Inilah Indonesia, inilah Bangsa kita, tanah yang subur, alam indah dan kaya, sehingga ada orang yang mengatakan bahwa Indonesia adalah surga dunia.
Sebelum datangnya Islam, bangsa kita beragama Hindu-Budha, Animisme dan Dinamisme yang sudah mendarah daging dalam keseharian masyarakatnya, sehingga budaya dan adat istiadatnya pun tak lepas dengan agama yang dianutnya.
Pada abad ke-7 Islam datang ke Indonesia dengan jalinan perdagangan antara kerajaan Arab dan Kerajaan Sriwijaya (Indonesia)yang beralangsung cukup baik ketika itu. Dari situlah awal mula islam disebarkan, pelan tapi pasti.
Para Mubaligh yang dikenal Wali Songo melakukan penyebaran agama islam menggunakan pendekatan budaya. Tentu islam bukanlah seperti banjir bandang yang datang meluluhlantakan  budaya bangsa Indonesia. Ketika zaman wali songo, Islam tampil sebagai penyelamat, penganyom, pelindung bagi masyarakat ketika itu. Sehingga penyebaran islam tidak perlu menggunakan senjata, tidak perlu menumpahkan darah, tapi dengan akhlak yang mulia dan sopan santun yang dikedepankan. Budaya yang tidak bersebrangan dengan Islam tetap lestari dan berkembang, sedangkan budaya yang bersebrangan dengan Islam diubah dengan nilai-nilai islam sehingga bangsa kita tidak kehilangan budayanya. Salah satunya adalah Tahlilan dan Yasinan. Inilah dakwah islam yang diwariskan oleh para Mubaligh yang dikenal dengan Wali Songo.

Tahlilan
Secara Bahasa, Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata: هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
Tahlil secara istilah adalah tradisi do’a bersama untuk mendo’akan orang yang telah meninggal atau karena hajat lain, dengan membaca Al Qur’an, kalimat tayyibah, istighfar, takbir, tahmid, tasbih, sholawat dan pahalanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal atau orang yang punya hajat sesuatu.
Sudah menjadi tradisi di masayarakat Indonesia bahwa jika ada yang meninggal dunia, atau memiliki hajat (keinginan) sesuatu, tetangga dan sanak saudara diundang ke rumah untuk melakukan dzikir dan doa bersama dengan harapan hajat yang diinginkannya bisa terwujud.
Perkara dzikir bersama sudah diisyaratkan dalam Alquran bahkan dipuji oleh Allah dalam Hadits QudsiNya. Perhatikan dalil di bawah ini:
وَاصبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِيْنَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالغَدَاةِ وَالعَشِيِّ يُرِيْدُونَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ....
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan NYA; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka… (Q.S. Al Kahfi ayat 28)

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imron ayat 191) 
إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ
“Bila ia (hambaKu) menyebut namaKu dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diriku, bila mereka menyebut namaKu dalam kelompok besar, maka Akupun menyebut (membanggakan) nama mereka dalam kelompok yg lebih besar dan lebih mulia". (HR Muslim).”

Dari Ayat dan hadits di atas bisa kita fahami bahwa berkumpul bersama dalam mengingat Allah bukanlah perbuatan yang tercela melainkan perbuatan terpuji dan dianjurkan dalam agama.

Yasinan
Yasinan adalah sebuah kegiatan membaca surat Yasin bersama-sama dan diniatkan pahalanya untuk ahli kubur, orang yang sedang sakaratul maut (agar dimudahkan kematiannya), orang yang sedang sakit atau mengambil berkah dari pembacaan surat Yasin agar cita-cita dan hajatnya tercapai.
Pada hakikatnya Yasinan juga merupakan bentuk dzikir kepada Allah yang dilakukan bersama-sama atau sendirian dan mengharap Berkah dan Rahmat dari Allah Subhanahu wa Taala yang didasari dalil di atas. Biasanya Yasinan dilakukan bersandingan dengan tahlilan.
Yasinan sudah menjadi budaya di Indonesia dan menjadi media dakwah untuk menyampaikan ajaran islam dengan penuh kekeluargaan. Biasanya acara yasinan menjadi rutinitas masyarakat di setiap malam jumat atau di waktu lain yang disepakati oleh masyarakat tersebut. Kegiatannya bisa bergiliran dari rumah ke rumah atau ketika ada hajat tertentu.
Kegiatan Yasinan bukanlah kegiatan tak bisa diterima oleh syariat, melainkan yasinan merupakan kegiatan yang berpahala yang dianjurkan di dalam syariat Islam, perhatikan dalil-dali berikut ini:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ 
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari seraya mengharap rida Allah, maka ia diampuni” (HR al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 2464, al-Thabrani dalam al-Ausath No 3509, al-Darimi No 3417, Abu Nuaim dalam al-Hilyat II/159, Khatib al-Baghdadi X/257 dan Ibnu Hibban No 2574)


al-Fatanni berkata:
مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ وَمَنْ قَرَأَ الدُّخَانَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ فِيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا يَضَعُ  قُلْتُ لَهُ طُرُقٌ كَثِيْرَةٌ عَنْهُ بَعْضُهَا عَلَى شَرْطِ الصَّحِيْحِ أَخْرَجَهُ التُّرْمُذِي وَالْبَيْهَقِي (تذكرة الموضوعات للفتني 1 / 80)
"Hadis yang berbunyi: 'Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari, maka di pagi harinya ia diampuni dan barangsiapa membaca Surat al-Dukhan di malam Jumat, maka di pagi harinya ia diampuni' Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Zakariya yang memalsukan hadis. Saya (al-Fatanni) berkata: Hadis ini memiliki banyak jalur riwayat, yang sebagiannya sesuai kriteria hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dan al-Baihaqi" (Tadzkirat al-Maudlu'at I/80)

Dari dua dalil di atas kita dapat simpulankan bahwa membaca surat Yasin adalah suatu yang dianjurkan dan dapat mendatangkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak hanya itu, salah satu faedah surat yasin adalah dapat meringankan seseorang ketika Sakartul maut. Sebagaimana yang dikemukakan oleh ahli Tafsir Ibnu Katsir dalam kitabnya:
ثُمَّ قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ حَدَّثَنَا عَارِمٌ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ -وَلَيْسَ بِالنَّهْدِي- عَنْ أَبِيْهِ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "اِقْرَؤُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ" يَعْنِي يس. وَرَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ بِهِ إِلاَّ أَنَّ فِي رِوَايَةِ النَّسَائِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ. وَلِهَذَا قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهَا لاَ تُقْرَأُ عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيْرٍ إِلاَّ يَسَّرَهُ اللهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا عِنْدَ الْمَيِّتِ لِتُنْزَلَ الرَّحْمَةُ وَالْبَرَكَةُ وَلِيَسْهُلَ عَلَيْهِ خُرُوْجُ الرُّوْحِ وَاللهُ أَعْلَمُ. قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ كَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ - يَعْنِي يس- عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا (تفسير ابن كثير 6 / 562)

"Imam Ahmad berkata (dengan meriwayatkan sebuah) bahwa Rasulullah Saw bersabda: Bacalah surat Yasin kepada orang-orang yang meninggal (HR Abu Dawud dan al-Nasa'i dan Ibnu Majah). Oleh karenanya sebagian ulama berkata: diantara keistimewaan surat yasin jika dibacakan dalam hal-hal yang sulit maka Allah akan memudahkannya, dan pembacaan Yasin di dekat orang yang meninggal adalah agar turun rahmat dan berkah dari Allah serta memudahkan keluarnya ruh. Imam Ahmad berkata: Para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan bacaan Yasin tersebut" (Ibnu Katsir VI/342)

Dari semua keterangan di atas yang menerangkan kebolehannya bahkan dianjurkannya tahlilan dan Yasinan merupakan dalil-dalil dari sebagian kecilnya saja.  Masih banyak lagi dalil-dalil yang menerangkan hal tersebut. Jika ada yang menyangkal tentang keabsahan dan keauntentikan dalil-dalil tersebut, maka itu merupakan khilafiyah (perbedaan) di kalangan Ulama karena dalam hal ini tidak ada yang paling benar, kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun demikian, kita harus yakin dengan semua amalan yang kita kerjakan baik yang wajib, sunnah maupun mubah. karena tanpa keyakinan amalan kita menjadi sia-sia belaka.


*Masqomar*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar