Pendahuluan
Bangsa kita adalah bangsa yang kaya dengan Budaya dan Adat
Istiadat. Ada sekitar 1.128 Suku Bangsa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia
dengan adat yang dan budaya yang berbeda-beda. Belum lagi jika dilihat dari
sisi geografisnya, ada 17.504 pulau yang
tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan 7.870 di antaranya telah mempunyai
nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama. Inilah Indonesia, inilah Bangsa
kita, tanah yang subur, alam indah dan kaya, sehingga ada orang yang
mengatakan bahwa Indonesia adalah surga dunia.
Sebelum datangnya Islam, bangsa kita beragama Hindu-Budha, Animisme
dan Dinamisme yang sudah mendarah daging dalam keseharian masyarakatnya, sehingga
budaya dan adat istiadatnya pun tak lepas dengan agama yang dianutnya.
Pada abad ke-7 Islam datang ke Indonesia dengan jalinan perdagangan
antara kerajaan Arab dan Kerajaan Sriwijaya (Indonesia)yang beralangsung cukup
baik ketika itu. Dari situlah awal mula islam disebarkan, pelan tapi pasti.
Para Mubaligh yang dikenal Wali Songo melakukan penyebaran agama
islam menggunakan pendekatan budaya. Tentu islam bukanlah seperti banjir
bandang yang datang meluluhlantakan
budaya bangsa Indonesia. Ketika zaman wali songo, Islam tampil sebagai
penyelamat, penganyom, pelindung bagi masyarakat ketika itu. Sehingga
penyebaran islam tidak perlu menggunakan senjata, tidak perlu menumpahkan
darah, tapi dengan akhlak yang mulia dan sopan santun yang dikedepankan. Budaya
yang tidak bersebrangan dengan Islam tetap lestari dan berkembang, sedangkan budaya
yang bersebrangan dengan Islam diubah dengan nilai-nilai islam sehingga bangsa
kita tidak kehilangan budayanya. Salah satunya adalah Tahlilan dan Yasinan.
Inilah dakwah islam yang diwariskan oleh para Mubaligh yang dikenal dengan Wali
Songo.
Tahlilan
Secara Bahasa, Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari
akar kata: هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا yang berarti
mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahlil dengan pengertian ini
telah muncul dan ada di masa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam,
sebagaimana dalam sabda beliau:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa
sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi
kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan
tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah,
setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah
sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari
sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
Tahlil secara istilah adalah tradisi do’a bersama
untuk mendo’akan orang yang telah meninggal atau karena hajat lain, dengan
membaca Al Qur’an, kalimat tayyibah, istighfar, takbir, tahmid, tasbih,
sholawat dan pahalanya diberikan kepada orang yang sudah meninggal atau orang
yang punya hajat sesuatu.
Sudah menjadi tradisi di masayarakat Indonesia bahwa
jika ada yang meninggal dunia, atau memiliki hajat (keinginan) sesuatu,
tetangga dan sanak saudara diundang ke rumah untuk melakukan dzikir dan doa
bersama dengan harapan hajat yang diinginkannya bisa terwujud.
Perkara dzikir bersama sudah diisyaratkan dalam
Alquran bahkan dipuji oleh Allah dalam Hadits QudsiNya. Perhatikan dalil di
bawah ini:
وَاصبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الذِيْنَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالغَدَاةِ وَالعَشِيِّ
يُرِيْدُونَ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ....
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan
orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridlaan NYA; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka… (Q.S. Al Kahfi
ayat 28)
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى
جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا
خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Rabb kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali
Imron ayat 191)
إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي
مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ
“Bila ia (hambaKu) menyebut namaKu dalam dirinya, maka Aku mengingatnya
dalam diriku, bila mereka menyebut namaKu dalam kelompok besar, maka Akupun
menyebut (membanggakan) nama mereka dalam kelompok yg lebih besar dan lebih
mulia". (HR Muslim).”
Dari Ayat dan hadits di atas bisa kita fahami bahwa berkumpul bersama dalam
mengingat Allah bukanlah perbuatan yang tercela melainkan perbuatan terpuji dan
dianjurkan dalam agama.
Yasinan
Yasinan adalah sebuah kegiatan membaca surat Yasin bersama-sama dan
diniatkan pahalanya untuk ahli kubur, orang yang sedang sakaratul maut (agar
dimudahkan kematiannya), orang yang sedang sakit atau mengambil berkah dari
pembacaan surat Yasin agar cita-cita dan hajatnya tercapai.
Pada hakikatnya Yasinan juga merupakan bentuk dzikir kepada Allah yang
dilakukan bersama-sama atau sendirian dan mengharap Berkah dan Rahmat dari
Allah Subhanahu wa Taala yang didasari dalil di atas. Biasanya Yasinan
dilakukan bersandingan dengan tahlilan.
Yasinan sudah menjadi budaya di Indonesia dan menjadi media dakwah untuk
menyampaikan ajaran islam dengan penuh kekeluargaan. Biasanya acara yasinan
menjadi rutinitas masyarakat di setiap malam jumat atau di waktu lain yang
disepakati oleh masyarakat tersebut. Kegiatannya bisa bergiliran dari rumah ke
rumah atau ketika ada hajat tertentu.
Kegiatan Yasinan bukanlah kegiatan tak bisa diterima oleh syariat,
melainkan yasinan merupakan kegiatan yang berpahala yang dianjurkan di dalam
syariat Islam, perhatikan dalil-dali berikut ini:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَليْهِ وسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ
غُفِرَ لَهُ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw
bersabda: Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari seraya mengharap rida
Allah, maka ia diampuni” (HR al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 2464,
al-Thabrani dalam al-Ausath No 3509, al-Darimi No 3417, Abu Nuaim dalam
al-Hilyat II/159, Khatib al-Baghdadi X/257 dan Ibnu Hibban No 2574)
al-Fatanni berkata:
مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ
مَغْفُوْرًا لَهُ وَمَنْ قَرَأَ الدُّخَانَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَصْبَحَ
مَغْفُوْرًا لَهُ فِيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا يَضَعُ قُلْتُ لَهُ
طُرُقٌ كَثِيْرَةٌ عَنْهُ بَعْضُهَا عَلَى شَرْطِ الصَّحِيْحِ أَخْرَجَهُ
التُّرْمُذِي وَالْبَيْهَقِي (تذكرة الموضوعات للفتني 1 / 80)
"Hadis yang berbunyi: 'Barangsiapa membaca Surat
Yasin di malam hari, maka di pagi harinya ia diampuni dan barangsiapa membaca
Surat al-Dukhan di malam Jumat, maka di pagi harinya ia diampuni' Di dalam
sanadnya terdapat Muhammad bin Zakariya yang memalsukan hadis. Saya
(al-Fatanni) berkata: Hadis ini memiliki banyak jalur riwayat, yang sebagiannya
sesuai kriteria hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dan
al-Baihaqi" (Tadzkirat al-Maudlu'at I/80)
Dari dua dalil di atas kita dapat simpulankan bahwa
membaca surat Yasin adalah suatu yang dianjurkan dan dapat mendatangkan ampunan
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak hanya itu, salah satu faedah surat yasin adalah
dapat meringankan seseorang ketika Sakartul maut. Sebagaimana yang dikemukakan
oleh ahli Tafsir Ibnu Katsir dalam kitabnya:
ثُمَّ قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ
حَدَّثَنَا عَارِمٌ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ
التَّيْمِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ -وَلَيْسَ بِالنَّهْدِي- عَنْ أَبِيْهِ عَنْ
مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ "اِقْرَؤُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ" يَعْنِي يس. وَرَوَاهُ
أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ
حَدِيْثِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ بِهِ إِلاَّ أَنَّ فِي رِوَايَةِ
النَّسَائِي عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ مَعْقِلٍ بْنِ يَسَارٍ. وَلِهَذَا قَالَ
بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ السُّوْرَةِ أَنَّهَا لاَ تُقْرَأُ
عِنْدَ أَمْرٍ عَسِيْرٍ إِلاَّ يَسَّرَهُ اللهُ. وَكَأَنَّ قِرَاءَتَهَا عِنْدَ
الْمَيِّتِ لِتُنْزَلَ الرَّحْمَةُ وَالْبَرَكَةُ وَلِيَسْهُلَ عَلَيْهِ خُرُوْجُ
الرُّوْحِ وَاللهُ أَعْلَمُ. قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللهُ حَدَّثَنَا
أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ كَانَ الْمَشِيْخَةُ
يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ - يَعْنِي يس- عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ
بِهَا (تفسير ابن كثير 6 / 562)
"Imam Ahmad berkata (dengan meriwayatkan sebuah)
bahwa Rasulullah Saw bersabda: Bacalah surat Yasin kepada orang-orang yang
meninggal (HR Abu Dawud dan al-Nasa'i dan Ibnu Majah). Oleh karenanya sebagian
ulama berkata: diantara keistimewaan surat yasin jika dibacakan dalam hal-hal
yang sulit maka Allah akan memudahkannya, dan pembacaan Yasin di dekat orang
yang meninggal adalah agar turun rahmat dan berkah dari Allah serta memudahkan
keluarnya ruh. Imam Ahmad berkata: Para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di
dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan bacaan Yasin
tersebut" (Ibnu Katsir VI/342)
Dari semua keterangan di atas yang menerangkan
kebolehannya bahkan dianjurkannya tahlilan dan Yasinan merupakan dalil-dalil
dari sebagian kecilnya saja. Masih banyak
lagi dalil-dalil yang menerangkan hal tersebut. Jika ada yang menyangkal
tentang keabsahan dan keauntentikan dalil-dalil tersebut, maka itu merupakan khilafiyah
(perbedaan) di kalangan Ulama karena dalam hal ini tidak ada yang paling benar,
kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun demikian,
kita harus yakin dengan semua amalan yang kita kerjakan baik yang wajib, sunnah
maupun mubah. karena tanpa keyakinan amalan kita menjadi sia-sia belaka.
*Masqomar*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar